Senin, 06 Juli 2020

Matinya Jiwa Korsa di Kasus Penusukan Anggota Babinsa


Jakarta - Babinsa Kodim Jakarta Barat Serda RH Saputra gugur saat bertugas melakukan penjagaan di sebuah hotel di Jakarta Barat. Tiga oknum anggota TNI dari dua matra berbeda terlibat dalam insiden ini.

Tiga oknum tersebut terdiri atas satu oknum Marinir TNI AL Letda RW dan dua oknum anggota TNI AD, yakni Sertu H dan Koptu S. Keterlibatan Sertu H dan Koptu S seolah jadi tanda matinya jiwa korsa (korps dan satuan) dengan Serda Saputra, yang juga merupakan TNI AD.

Serda H dan Koptu S telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Mayjen TNI Eddy Rate Muis membeberkan soal peran kedua oknum anggota TNI AD tersebut.

"Kemudian tersangka lain, ada dua oknum TNI AD, yaitu Sertu H dan Koptu S. Ini sudah kita periksa barang bukti, kita kumpulkan keterangan para saksi dan petunjuk dan juga sudah dikaitkan sehingga penyidik yakin kedua ini juga sebagai tersangka," kata Mayjen Eddy kepada wartawan di Mako Puspomal, Jalan Boulevard Bukit Gading Raya, Jakarta Utara, Kamis (2/7/2020).

Salah satu oknum anggota TNI AD itu berperan meminjamkan senjata api (senpi) pribadinya kepada tersangka utama, Letda RW. Di halaman hotel, Letda RW sempat melepaskan dua kali tembakan.

"Perannya ada memberikan, meminjamkan senjata api kepada tersangka (Letda RW). Jadi senjata api yang dipakai oleh tersangka dipinjam dari tersangka Sersan H tersebut," ungkap Mayjen Eddy.

Dalam kasus ini, ada sembilan orang warga sipil yang diamankan Polres Jakarta Barat, karena terlibat perusakan di hotel tersebut. Kasus penusukan ini bermula ketika Letda RW datang untuk menemui kekasihnya dalam keadaan setengah mabuk menuju Hotel Mercure.

Namun, karena Hotel Mercure merupakan tempat karantina bagi pasien virus corona, kehadiran Letda RW dilarang oleh petugas keamanan. Letda RW tidak terima atas penolakan tersebut dan menjadi berang.

Dia lalu mengamuk, melakukan perusakan serta penembakan di kawasan hotel. Serda Saputra, yang datang beberapa saat kemudian, lalu terlibat cekcok dengan Letda RW. Pelaku yang masih dalam keadaan mabuk kemudian menyerang Serda Saputra dan melayangkan dua kali tusukan kepada korban hingga akhirnya Serda Saputra tewas.

Atas tindakannya tersebut, Letda RW kemudian dijerat dengan pasal berlapis.  Pasal terkait tindakan pembunuhan, perusakan tempat umum, serta penyalahgunaan senjata api.

"Dalam perkara yang terakhir ini, yang kita sidik ini, penyidik menjerat tersangka dengan pasal berlapis. Pertama, dijerat dengan pasal masalah pembunuhan. Di KUHP itu ancamannya saya kira maksimal 15 tahun," terang Mayjen Eddy.

"Kedua, perusakan di tempat umum. Ini KUHP juga ancaman hukumannya adalah 2 tahun 8 bulan. Kemudian yang ketiga adalah pasal penyalahgunaan senjata api. Ini Undang-Undang Darurat Nomor 1 tahun 1959 ini yang paling berat. Ini ancamannya hukumannya bisa 20 tahun," sambungnya.

Wah, kok seperti ini sikap seorang TNI? Bagaimana menurutmu terkait insiden ini? Jangan lupa tuliskan pendapat kalian di kolom komentar, ya!

Utama

Barisan Partai Perindo Sliyeg Siap Menangkan SHOLAWAT

Indramayu - Barisan Relawan Perindo (BARINDO) mengadakan sosialisasi pemenangan paslon SHOLAWAT (Sholihin-Ratnawati) di desa Gadingan Sliyeg...