Jumat, 26 Juni 2020

Tuduh Menuduh Santet Warga Sampang Madura Lakukan Prosesi Sumpah Pocong

Sampang - Dianggap sebagai solusi terakhir persoalan tuduh menuduh ilmu Santet, 3 orang warga Dusun Morombuk Timur, Desa Tebanah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang Madura Jawa Timur menjalani ritual Sumpah Pocong.

Ketiganya adalah Suranten (60), Misriyah (80), dan Hikmah (20). Layaknya mayat, ketiganya dibungkus dengan kain kafan putih secara bergantian kemudian diambil sumpahnya.

Sumpah pocong yang dilakukan di masjid Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan/Kabupaten Sampang, Rabu (24/6) siang, bermula dari tuduhan penggunaan ilmu santet oleh Hikmah (Penuduh) terhadap Suranten (SN) dan Misriyah (MH).

Abdus Sarif (55), ayah dari penuduh, mengatakan bahwa putrinya (Hikmah) melayangkan tuduhan itu bukan tanpa alasan. Ia menjelaskan bahwa putrinya sempat jatuh sakit setelah memakan bingkisan yang ia dapatkan dari hajatan di rumah tertuduh.

"Setelah memakan bingkisan itu tenggorokan anak saya sakit, kemudian setelah ke paranormal katanya penyakitnya tidak wajar," ungkapnya.

Tidak terima orang tuanya dituduh menggunakan ilmu hitam, 
Juheri (40), Anak dari SN, memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan sumpah pocong.

"Sebenarnya tuduhan terhadap keluarga kami terjadi sebelum bulan puasa kemarin, namun urusan ini baru bisa berlanjut ke sumpah pocong selepas Ramadhan karena baru mendapat izin dari polsek dan kades," jelasnya.

Haysim Abdul Hamid, Ketua Takmir Masjid Madegan mengatakan tuduhan penggunaan ilmu santet memang umumnya adalah alasan utama digelarnya ritual Sumpah Pocong.

Lebih lanjut, dampak yang nantinya akan didapatkan oleh pihak yang salah, baik dari pihak penuduh ataupun tertuduh, dapat berupa sakit atau bahkan kematian.

"Dampak sumpah pocong ini paling lambat 40 hari pasca ritual," pungkasnya.

LEBIH JELAS LAGI

putri penuduh bernama Hikmah pergi silaturahmi ke rumah tertuduh pada acara kenduri atau selamatan. Pulangnya, Hikmah membawa bekal makanan yang diberi tuan rumah.

"Sampai di rumah, bekal yang dibawa pulang dimakan. Lalu Hikmah mengalami panas badan dan sakit tenggorokan," kata Juhari.

Setelah itu, Hikmah pergi ke rumah orang tuanya memberi tahu jika sakit yang diderita tidak wajar. Keluarga penuduh melakukan pemeriksaan melalui dukun.

"Keterangan dari dukun, ada penyakit yang baru masuk. Sehingga keluarga kami dituduh memiliki ilmu santet," ujarnya.

Keluarga penuduh Abdus Sarip membenarkan, jika putrinya bernama Hikmah sempat makan bekal nasi yang dibawa pulang dari rumah tertuduh usai acara selamatan.

"Setelah makan, tenggorokan anak sakit dan ada sesuatu yang bergerak. Setelah diperiksa kepada seorang dukun, ada penyakit yang masuk," terang Sarip.

Sarip yang ada ikatan keluarga yakni saudara sepupu dengan anak tertuduh itu, mengaku penyakit yang diderita Hikmah masih ada reaksinya. "Dari dukun, penyakitnya masih ada," ungkapnya.

Pelaksana sumpah pocong pada isu santet atau sihir, Hasin Abdul Hamid, melakukan mediasi terhadap keluarga tertuduh dan penuduh terlebih dahulu. Tujuannya untuk memberikan pencerahan supaya tradisi sumpah pocong bukan menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan masalah sosial ini.

"Kami mediasi dulu antar tertuduh dan penuduh. Apakah bisa selesai tanpa sumpah pocong atau mereka benar-benar siap menerima segala risiko dari sumpah pocong," ucap Takmir Masjid Madegan ini.

Balasan dari sumpah pocong, di antara mereka yang terbukti bersalah dapat mengalami gejala atau reaksi sakit paling singkat dua pekan dan paling lama sampai 40 hari. "Terkadang mereka mengalami sakit, bahkan sampai meninggal dunia," tuturnya.

Utama

Barisan Partai Perindo Sliyeg Siap Menangkan SHOLAWAT

Indramayu - Barisan Relawan Perindo (BARINDO) mengadakan sosialisasi pemenangan paslon SHOLAWAT (Sholihin-Ratnawati) di desa Gadingan Sliyeg...