Senin, 13 April 2020

Adzan Pitu Ikhtiar Usir Wabah Corona Dari Kota Cirebon

Cirebon : Tujuh muadzin Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kota Cirebon, Jawa Barat, mengumandangkan adzan Pitu. Tujuannya agar masa pandemi Corona segera berakhir.

Adzan Pitu sendiri berasal dari  tujuh muadzin yang mengumandangkan. Penghulu Keraton Kasepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Jumhur mengatakan adzan pitu merupakan tradisi sejak zaman Sunan Gunung Jati yang digunakan untuk menolak bala, wabah penyakit, sihir dan lainnya.

"Kita kumandangkan adzan pitu atau tujuh karena kita ketahui saat ini sedang ada wabah corona. Dulu, adzan pitu ini dikumandangkan juga untuk menolak wabah, sihir dan lainnya," jelas Jumhur usai adzan tujuh di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Kamis malam (9/4/2020) lalu.

Dalam salah satu sejarah babad Cirebon menyebutkan wabah penyakit di Cirebon datang karena kiriman dari seorang pendekar ilmu hitam, Menjangan Wulung yang sering berdiam diri di memolo (kubah) masjid. 

Ketidaksukaannya terhadap syiar Islam di Cirebon membuatnya menyebarkan wabah dan setiap muadzin yang melantunkan adzan mendapatkan serangan hingga muntah darah sampai meninggal.

Setelah berdoa kepada Allah, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kala itu mendapatkan petunjuk bahwa wabah di tanah Caruban atau Cirebon tersebut akan hilang dengan cara mengumandangkan adzan yang dilantunkan tujuh orang sekaligus.

Sunan Gunung Jati akhirnya berikhtiar dengan bertitah kepada tujuh orang agar mengumandangkan azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai upaya menghilangkan wabah tersebut.

Saat Sunan Gunung Jati memberikan titah tujuh orang sekaligus melantunkan adzan ketika waktu Subuh, suara ledakan dahsyat terdengar dari bagian kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada 1480 Masehi. 

Ledakan itu membuat Menjangan Wulung yang berdiam diri di kubah masjid terluka. Bahkan tubuhnya hingga terpental dan darahnya berceceran di area masjid. Namun, salah satu pengumandang adzan pitu diceritakan juga meninggal dunia karena ledakan tersebut.

Sementara kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa terpental hingga ke Banten dan menumpuk di kubah Masjid Agung Serang Banten. Karena itu, hingga kini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sementara Masjid Agung Serang Banten memiliki dua kubah.

Kisah tewasnya Menjangan Wulung menjadi legenda di masyarakat Cirebon. Darah Menjangan yang berceceran karena ledakan disebut menetes di tanaman labu hitam, atau warga Cirebon biasa menyebutnya walu ireng yang dinilai beracun dan tak layak dimakan. Karena itu, memakan walu ireng adalah pantangan bagi anak, cucu, dan keturunan orang Cirebon.

Walaupun sejarah mengenai adzan pitu banyak versi namun apaaun ikhtiarnya kita berdo'a bersama agar wabah ini cepat sirna dan kehidupan kembali normal.

Utama

Barisan Partai Perindo Sliyeg Siap Menangkan SHOLAWAT

Indramayu - Barisan Relawan Perindo (BARINDO) mengadakan sosialisasi pemenangan paslon SHOLAWAT (Sholihin-Ratnawati) di desa Gadingan Sliyeg...