Senin, 30 Maret 2020

Hasil Rapid Test 300 Orang Terindikasi Positif Covid-19 Terbanyak Sukabumi

Bandung : Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, ada 300 orang yang terindikasi positif Covid-19 lewat hasil dari rapid diagnostic test (RDT) yang dilakukan secara masif di 27 kota dan kabupaten di Jabar.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan, 300 orang itu akan kembali dilakukan pemeriksaan yang kedua dengan metode polymerase chain reaction (PCR) atau dengan mengambil sampel dari cairan dari hidung dan tenggorokan.

"Hasil tes dari 22 ribu alat tes, ada 300 yang positif, 300 yang positif itu akan dites kedua lewat metode PCR. Kita akan buktikan agar ini tidak false positive (positif palsu), positif tapi bukan. Makanya ini belum kita jadikan laporan ke pemerintah pusat," kata Emil di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin (30/3).

Emil menuturkan, dia sudah meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Sukabumi untuk melakukan pengecekan di daerah rumah tempat tinggal warga yang terindikasi positif corona hasil dari rapid test. Selain itu, jika memungkinkan adanya karantina wilayah parsial (KWP). 

Karantina ini rencananya dilakukan di kecamatan yang memang angka orang positif corona terbanyak.

"Kami sudah minta untuk segera melakukan tindakan," ujar Emil.

Untuk jumlah lebih rinci berapa warga yang terpapar corona di Sukabumi setelah mengikuti rapid test, Emil enggan menyebutnya. Pemprov Jabar saat ini akan melakukan tes kembali kepada 300 orang tersebut untuk lebih memastikan.

"Langkah kedua adalah 300an yang positif itu dilakukan tes kedua yaitu PCR (Polymerase Chain Reaction) atau swab untuk memastikan ini bukan false positive yaitu positif tapi ternyata bukan. Jadi tidak bisa saya laporkan ke pemerintah pusat," tukas Emil

Sementara itu Pemerintah Kota Sukabumi menyiapkan skenario KWT (Karantina Wilayah Terbatas) pasca tujuh siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri dinyatakan positif Corona hasil rapid test.

Skenario ini disiapkan bersama rencana pembangunan barak khusus untuk pasien Covid-19 di RSUD R Syamsudin SH yang bisa menampung hingga 80 orang

Skenario ini disiapkan bersama rencana pembangunan barak khusus untuk pasien Covid-19 di RSUD R Syamsudin SH yang bisa menampung hingga 80 orang.

Hal ini diungkapkan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi menanggapi perkembangan informasi terjangkitnya siswa Setukpa Lemdikpol Polri.

"Saat ini kita melihat dulu situasi yang sedang ramai di media, terkait kasus di Setukpa. Bila kemudian ada perubahan status kegawatdaruratan, maka sangat memungkinkan Karantina Wilayah Terbatas (KWT) ini diterapkan," jelas Fahmi melalui sambungan telpon, Senin (30/3/2020) seperti yang dilansir oleh sukabumiupdate.com

Pemerintah Kota, kata Fahmi, saat ini masih menunggu konfirmasi. "Kita masih menunggu status selanjutnya. Tentu saja ketika penetapan KWT ini diterapkan, ada faktor sosial kemasyarakatan lain yang harus dipertimbangkan."

Pemkot tadi pagi sambung Fahmi, sudah berkoordinasi dengan Setukpa. "Covid-19 ini permasalahan secara nasional bahkan internasional, jadi semuanya terbuka, baik informasi, maupun data, dan penanganannya. Yang jelas mereka sudah ditangani di (RS Polri) Kramat Jati," tuturnya

Kota Sukabumi memutuskan untuk mensentralisasi PDP covid-19 di RSUD R Syamsudin SH. Dimana akan ada barak khusus merawat PDP yang tidak memerlukan alat tambahan, dengan daya tampung 80 orang. 

"kita sentralisasi di RSUD R Syamsudin SH, sehingga jelas siapa saja yang menangani, baik dokternya, baik perawatnya. Sehingga nanti, dengan kejelasan ini kita bisa melakukan tindakan selanjutnya,” tukas Wali Kota Sukabumi.

Utama

Dialog Dengan Pedagang Kaki Lima, Ketum AHY Luncurkan Gerakan Nasional Demokrat Bina UMKM

Jakarta : Di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terdampak. Usaha mereka sepi pembeli...