Jumat, 11 Januari 2019

XTC Ciko Hadiri Ta'aruf Pengurus DPP Peta Nesia & Holaqoh Kebangsaan

E-NewsIndonesia - Rabu, 9 Januari 2019 lalu perwakilan XTC Ciko berangkat ke Batang bersama Rombongan Majelis BALE (Pimpinan Ust. Teddy, Cirebon) dalam rangka menghadiri Ta’aruf Pengurus DPP Peta Nesia (Pecinta Tanah Air Indonesia) Dan Halaqoh Kebangsaan. 

Acara malam hari bersama menikmati Sajian makan malam di temani alunan musik yang lembut. Acara yang digelar di Rumah Kali Salak Jl.Tentara Pelajar No.8 Kabupaten Batang ini, termasuk acara yang sederhana namun terasa mewah. 

"Penerimaan tamu, tatanan ruang, hingga sajian yang disuguhkan, tidak jauh Berbeda dengan gelaran di Hotel dan Gedung Berkelas.Baginya sebuah kehormatan, XTC bisa ikut hadir di Acara tersebut," tutur Dwn Bayu Sekjen XTC Ciko

Moderator acara dengan begitu kocak namun juga sarat akan pengetahuan, hampir tak kalah keren dengan para Narasumber yang dihadirkan panitia.

Mulai dari Prof KH Agus Sunyoto yang berhasil membius segenap Audien sampai membangkitkan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia, dengan Membahas beberapa cuplikan sederhana tentang Sejarah Nusantara, yang dicatat berbagai Peneliti di dunia.

Kemudian Dr KH Suwardi D Pranoto (Kalimantan) yang dengan ringkasnya Membahas Sejarah Kekompakan bangsa kita di waktu dulu hingga mampu bersatu mendirikan Indonesia yang punya Tata Negara istimewa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. 

Sampai Pembahasan tentang Sejarah Lokal Pantura oleh Ahmad Athokillah MA (Yogyakarta) yang membuat kita mengenal beberapa Pahlawan Bangsa yang banyak luput dari Catatan Sejarah.

"Serta penutup yang mampu mengkerucutkan inti Pembahasan dari para Narasumber sebelumnya, yang tentu saja paling dinanti segenap Undangan yang hadir.  Wejangan dari Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya," lanjut Den Bayu

Dalam wejanganya Habib Lutfi berharap NKRI dan Pancasila harga mati bukan sekedar ucapan saja. Namun harus dibuktikan dengan perbuatan. 

Beliau mengumpamakan bangsa ini seperti lautan yang begitu kuat dengan jati dirinya, berapa milyar kubik air hujan bah dan kotoran yang mengalir ke sana, tapi tidak bisa merubah warna maupun rasanya, semua dihempaskan kembali ke tepi daratan. 

"Seperti itulah seharusnya bangsa ini. Menepis segala pengaruh buruk dari dunia luar. Saya tidak butuh dengan kalimat pengakuan bahwa NKRI adalah Harga Mati. Yang saya inginkan adalah BUKTIKAN, bahwa PANCASILA benar-benar dicerminkan dengan Sikap & Perbuatan kita sebagai bangsa dari Negeri ini,” tukas Habib Lutfi.(Jack)

Utama

AHY Tegaskan Tuduhan Dirinya Dalangi Demo UU Ciptaker Sangat Menyakiti Hati Nurani Rakyat

Jakarta : Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono  membaca headline Koran Tempo dan Kompas hari ini. Kedua harian nasional itu m...