Minggu, 06 Januari 2019

Anak Krakatau Tidak Akan Meletus Seperti Ibunya

E-NewsIndonesia - Saat ini G. Anak Krakatau Status Level III (Siaga). Masyarakat/wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah. 

Bedasarkan informasi Badan Geologi terkait perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), serta dengan mempertimbangkan kondisi lereng/tebing dasar laut ataupun kondisi potensi kegempaan di Selat Sunda, maka zona waspada tsunami masih diterapkan dalam radius 500 m dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah (elevasi kurang dari 5 m di atas permukaan laut).

Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada, dalam beraktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda, dalam radius 500 m dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Ir. Muhamad Sadly, M. Eng. menghimbau masayarakat terus memonitor perkembangan informasi terkait kewaspadaan bahaya tsunami, melalui website, aplikasi mobile dan media sosial InfoBMKG, serta memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui aplikasi MAGMA INDONESIA Badan Geologi-ESDM, agar tidak terpancing dengan informasi / isu yang menyesatkan.

"BMKG beserta Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman masih tetap terus memantau, dan akan terus menyampaikan informasi perkembangannya," jelas Fadly pada rilisnya Sabtu 5 Januari 2019.

Sementara itu Sutopo Purwo Nugroho kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan pada akun medsosnya bahwa Gunung Anak Krakatau tidak akan meletus sedasyat ibunya (Gunung Krakatau) tahun 1883.

"Hampir setiap hari Gunung Anak Krakatau meletus. Pada 3/1/2019 dari pukul 00.00 -24.00 WIB terjadi 37 kali letusan, 42 kali hembusan dan tremor menerus. Asap kawah bertekanan sedang-kuat, warna putih, kelabu dan hitam, intensitas tebal setinggi 2.000 meter dari puncak kawah," tuturnya

Gunung Anak Krakatau tetap berstatus Siaga (level 3). Daerah berbahaya di dalam radius 5 km. Masyarakat dihimbau tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Jalur pelayaran Merak - Bakaheuni aman. Tidak terpengaruh letusan. 

Menurutnya selalu ada jeda waktu istirahat beberap hari kemudian meletus beruntun dari Gunung Anak Krakatau. Jika ada letusan baru, itu sudah perilaku Gunung Anak Krakatau. PVMBG terus memantau aktivitas vulkanik GAK. 

"Gunung Anak Krakatau tidak akan meletus seperti ibunya (Gunung Krakatau) tahun 1883. Jika ditemukan ada retakan saat ini. Itu wajar pada gunungapi pascaletusan. Percayakan pada PVMBG selaku otoritas pemantau gunungapi. Mereka punya alat, SDM,  ilmu dan pengalaman," jelas Sutopo

Tahun 1883, tiga gunung di Selat Sunda (G.Rakata, G.Danan. G.Perbuatan) meletus bersamaan. Letusanny besar dan menimbulkan tsunami besar setinggi 36 meter. Lalu gunungnya hilang. 

"1927 muncul Gunung Anak Krakatau (GAK). Tidak mungkin letusan GAK akan sama tahun 1883," tukas Sutopo.(Ach)

Utama

Libur Kampanye Sehari, Cawabup Ratnawati Ajak Anak Yatim Jalan-jalan

Indramayu - Padatnya jadwal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Indramayu tak membuat alasan berkurangnya perhatian salah satu calon...