Kamis, 21 Juni 2018

Demokrat DKI : Tidak Ada Perubahan Dan Prestasi Signifikan Pemprov DKI Menekan Inflasi

E-NewsIndonesia - Kenaikan harga komoditas bahan pokok dan barang lainnya. Dalam suatu periode atau yang biasa kita sebut dengan inflasi seperti menjadi momok tersendiri bagi Indonesia dan Jakarta khususnya.

Terutama ketika memasuki bulan Ramadhan hingga menjelang Idulfitri tiba. Hal tersebut diakibatkan karena melonjaknya permintaan dan terbatasnya pasokan barang, sehingga secara alamiah, harga komoditas merangkak naik.

Berbicara inflasi harga kebutuhan pangan, tahun ini secara terbuka Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim telah berhasil menjinakkan harga bahan pokok dan inflasi selama Ramadhan hingga menjelang Lebaran 2018. 

Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno. Dirinya menyatakan, keberhasilan itu disebabkan adanya upaya preventif yang melibatkan kolaborasi antara dinas dan instansi terkait di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

“Kita berhasil menekan inflasi di bulan ramadan ini. Kita bisa jinakkan harga di lebaran, ini berkat kolaborasi berbagai pihak. Saya mau menggaris bawahi, bahwa tahun ini terpantau jauh lebih baik. Karena kita kerja keroyokan, gerilya dari hulu ke hilir, ke pemasoknya, ke Magelang, Brebes, Blitar,” katanya di Balaikota Jakarta Pusat, Selasa (19/6/2018).

Menanggapi klaim persoalan harga pangan yang disampaikan oleh Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno, Ketua Fraksi Demokrat DPRD DKI Jakarta, Taufiqurrahman, SH menyoroti belum signifikannya upaya Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi persoalan kenaikan harga dan menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok saat ramadhan hingga menjelang Idul Fitri.

"Masih terjadinya kenaikan bahan pangan akibat secara sistematis. Tidak ada perubahan signifikan atau prestasi yang patut dibanggakan. Jadi Pak Wagub jangan asal klaim saja tanpa adanya data yang valid," jelas Taufiq

Berdasar data dari BI dan BPS justru inflasi di DKI Jakarta pada Bulan Mei relatif lebih tinggi 0,21% jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi nasional. 

"Belum lagi kalau kita membandingkan dengan laju inflasi tahun ini dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, lebih tinggi 0,2%. Tahun 2017 kita mencatatkan inflasi terendah sepanjang sejarah, yakni 0,26%, sementara tahun ini 0,5%. Saya fikir Pak Wagub harus berani buka data untuk perbandingan laju inflasi, agar kinerjanya benar terlihat, bukan sekedar pencitraan saja,” lanjut Politisi Partai Demokrat ini

Menurutna Pemprov DKI Jakarta agaknya sedikit tertolong dengan kebijakan pencairan THR bagi ASN dan honorer, sehingga itu sedikit bisa mendorong daya beli masyarakat. 

Belum lagi dengan kebijakan pemerintah pusat, dalam hal ini Bulog terkait dengan persoalan kebijakan pasokan komoditas sudah diantisipasi dengan menaikkan kuota persediaan sebanyak 30%. 

"Jadi Pemprov DKI tak bisa klaim keberhasilan seperti itu, jika kita mendasarkan pada probabilitas kenaikan harga (inflasi) pada tahun-tahun sebelumnya," ungkap Taufiq

Sementara itu, untuk pertumbuhan penjualan selama Ramadhan, Pemprov DKI pun mencatatkan hasil yang cukup baik. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan 5% saat Ramadhan, tahun ini DKI Jakarta diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 20-30%, di atas rata-rata nasional.

"Kalau yang baik tentu harus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang. Seperti tingkat pertumbuhan penjualan, itu kan berkorelasi positif atas meningkatnya pendapatan masyarakat, jadi bukan prestasi yang layak diklaim Pemprov DKI saya fikir. Untuk laju inflasi saya berharap dapat lebih ditekan lagi, optimalkan seluruh perangkat yang ada, maksimalkan peran TPID. Kondisi perekonomian harus tetap dijaga, jangan sampai akhir tahun kita justru kedodoran hadapi inflasi," pungkas Taufiq.(Ach)

Utama

Berawal Kenalan di Aplikasi Kencan, Saat Bercinta Youtuber Dihabisi dan Dimutilasi Jadi 11

Jakarta - Polisi menemukan sosok mayat laki-laki diduga menjadi korban mutilasi di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, Rabu sore, 16 S...