Selasa, 10 April 2018

Mengenal Keraton Kanoman atau Keraton Cirebon

E-NewsIndonesia - Keraton Kanoman yang terletak di Kota Cirebon adalah sebuah destinasi wisata budaya yang termasyur di Nusantara. Seorang aktifis sejarah Dedy Syeh menuturkan kisah tentang keraton Kanoman atau keraton Cirebon.

Prabu Sri Jayabhupati (1030 - 1042)M Raja Sunda ke 20, dipusarakan di Gunung Indrakila. Tempat dimana beliau dipusarakan kemudian lahir istilah Cere-ama-i artinya ciri tanah warisan bapak atau Ceremai, yg kemudian masyarakat mengenalnya sebagai Gunung Ciremai.

Bhatari Sri Perthiwi istri pertama Prabu Sri Jaya Bhupati yang berasal dari Galuh Nagara Tengah (Pasir Batang Purwokerto)  melanjutkan kekuasaan Prabu Sri Jayabhupati dan membagi kerajaan Galuh Singhapura dengan batasnya Gunung Ciremai menjadi 2, yaitu; Singhapura dan Galuh yang diberikan Kepada Wulan istri Prabu Sri Jayabhupati dari Panjalu putra Darmawangsa Teguh.

"Singhapura dibawah kekuasaan Purnawijaya dan Galuh dibawah kekuasan Sang Darmaraja kemudian berubah menjadi Panjalu," jelas Kang Syeh sapaan dari Dedy Syeh

Setelah Bhatari Sri Pertiwi wafat dan dipusarakan di Kabhumian (sekarang makamnya ada dalam Gedung BI Cirebon), untuk mengabadikannya lahirlah istilah Cere-ibu-an artinya tanah warisan ibu atau Cerebon dan sekarang menjadi Cirebon.

Keraton Kanoman atau Keraton Cirebon berdiri sejak naik tahtanya Bhatari Sri Pertiwi sebagai penguasa Singhapura..

"Cere-ibu-an = ka-nu ambu-an, -nu ambu = nuam = nom, -ka nu ambu-an = Kanoman = Cirebon," lanjut kang Syeh

Kesultanan Kanoman pewaris estafet Kepemimpinan di Bhumi Samidha, yang telah dipelopori Ki Danusela, Pangeran Hurang Sasaka (Walangsungsang), Sayyid Kamil (Syarif Hidayat).

Menurut kang Syeh, Ksatria-ksatria Kanoman adalah Para Ksatria pewaris dua sungai peradaban dari Nabi Sit as yang terpisah menjadi 2 (dua), alur Para Sanghyang yang puncaknya pada Nhay mas Rara Santang dan para Nabi yang puncaknya pada Sayyid Mahmud (Syarif Abdullah).

"Kedua alur besar peradaban itu bermuara pada sosok kembar Syarif Hidayat dan Syarif Nurul. Syarif Nurul pelanjut tahta di Mesir dan Syarif Hidayat pelanjut tahta Pangeran Hurang Sasaka/Walangsungsang di Caruban/Cirebon," tutur kang Syeh

Pangeran Hurang Sasaka atau Walangsungsang adalah putra mahkota Sunda Galuh/Pajajaran dari Permaisuri Kanjeng Prabu Siliwangi yaitu Ratu Subanglarang. Bergelar Pangeran Cakrabuwana sebagai Kuwu Caruban dan dinobatkan sebagai Sri Mangana saat Pakuwuan Caruban berubah menjadi Kaprabuan/Kaprabon Caruban dan Keratonnya disebut Pakungwati.

"Fase Kaprabon berakhir di era Panembahan Ratu II Pangeran Putra/Pangeran Karim saat disandera di Karta Ibu Negeri Mataram hingga wafatnya disana dan kemudian dikenal sebagai Panembahan Girilaya. Kaprabon Caruban kemudian dipimpin oleh Mangkubumi Martadipa yang diangkat oleh Mataram selama 12 tahun,  hingga penyerangan yang dilakukan Pangeran Madura Tarunajaya dan, Karaeng Galesong terhadap ibukota Mataram, Karta," lanjutnya

12 tahun dalam pengasingan Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya saat kembali ke Caruban kemudian oleh Sultan Ageng Tirtayasa masing-masing dinobatkan menjadi Sultan Sepuh dan Sultan Anom dan adik keduanya yaitu Pangeran Wangsakerta dinobatkan menjadi Panembahan Caruban.

"Dari pertalian darah yang tidak terputus kepada Kanjeng Rosulullah Muhammad SAW melalui Sayyidah Fathimah Az Zahra dan tradisi yang tidak pernah padam, ini yang menjadi alasan lestarinya sikap Ksatria Kanoman," jelas kang Syeh

Kesultanan Kanoman sendiri saat ini bertahta Sultan Raja Mochammad Emirudin Sultan Kanoman ke XII. Adapun Patihnya, Pangeran Raja Patih Mochammad Qodiran.(E01/DS)

Utama

Berawal Kenalan di Aplikasi Kencan, Saat Bercinta Youtuber Dihabisi dan Dimutilasi Jadi 11

Jakarta - Polisi menemukan sosok mayat laki-laki diduga menjadi korban mutilasi di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, Rabu sore, 16 S...