Senin, 09 April 2018

Haul Buntet Pesantren Peringati Almarhumin Sesepuh Pendiri Pesantren Buntet

E-NewsIndonesia - Haul buntet pesantren merupakan momen untuk memperingati almarhumin sesepuh buntet pesantren, yang diadakan satu kali setiap tahunnya. Beberapa tokoh terlihat menghadiri Haul Buntet ini.

Santri adalah bagian pondasi kemerdekaan negeri ini. Itulah kalimat yang disampaikan Menpora Imam Nahrawi di acara Halaqoh Kebudayaan Pesantren dan Budaya Nusantara di Gedung Olahraga Mbah Muqoyim Buntet Pesantren Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (5/4-2018) sore.

Pada acara yang juga dihadiri Budayawan Sudjiwo Tedjo tersebut, Menpora yang didampingi Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Faisal Abdullah dan Sekretaris Deputi Pemberdayaan Pemuda Esa Sukmawijaya menceritakan peran santri dalan mengisi kemerdekaan negeri ini sangatlah besar. Banyak alim ulama kita yang berjuang untuk merebut kemerdakaan bangsa ini.

Ponpes Buntet didirikan oleh Mbah Muqoyyim yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton Cirebon. Ayah Muqoyyim yang bernama Abdul Hadi merupakan putra dari Pangeran Cirebon dan Anjasmoro, yakni putri dari Lebe Mangku Warbita Mangkunegara.

Ayah Muqoyyim tinggal di keraton dan mendapatkan pendidikan ketatanegaraan dan pelajaran agama Islam. Karena pengetahuan agamanya yang menonjol, ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kiai Abdul Hadi. Dari kedua orangtua dan guru di keraton lah, Muqoyyim muda mendapatkan pendidikan, baik agama Islam, ketatanegaraan hingga ilmu kedigdayaan.

"Saya selama menjadi Menpora akan terus memperjuangkan peran santri di pondok pesantren. Ketika ada yang bertanya kenapa selalu santri, saya langsung jelaskan kepada pejabat Kemenpora karena saya lahir dari seorang santri, saya sangat paham dengan kondisi santriawan dan santriwati ketika berada di pondok pesantren," kata Menpora.  

Ada hal menarik dari sekian banyak acara yang disusun, salah satunya adalah ziarah kubur sesepuh buntet pesantren, yang bertujuan mendoakan para sesepuh yang telah berjasa membangun pesantren buntet.

Ziarah yang dilaksanakan pada hari puncak haul buntet, yakni pada Sabtu (07/04-2018) pukul 15.30 WIB, disambut antusias oleh seluruh peziarah baik dari Cirebon maupun luar Cirebon.

Jalanan sekitar Pesantren Buntet pun terlihat macet oleh kendaraan para pejiarah yang datang dari pelosok negri.

Tahlil yang dipimpin oleh KH. Amir dari Asrama al-hikmah Buntet Pesantren pun berjalan tertib dan khidmat

Sebelumnya pada hari kamis malam Jum'at diadakan khotmil Qur'an. Ratusan anggota ormas motor yang dulunya genk motor XTC bersama anak-anak punk mengikuti dengan hikmat.

Kang Ayip Abdullah Abbas memimpin rombongan anak-anak muda ini bershalawat. Menurut penuturanya bahwa kegiatan ini sudah rutin diadakan tiap bulan namun tempatnya berbeda.

"Biasanya kami mngadakan kegiatan shalawatan di pesawahan namun karena bertepatan dengan haul buntet saya sengaja bawa anak-anak kesini," jelas kang Ayip yang sudah merubah image buruk anak-anak muda lebih religius

Pada hari Jum'at (6/4-2018) Para pendiri Pondok Buntet Pesantren Cirebon tidak hanya konsen membina ilmu agama dan pengembangan berbagai ajaran Islam, tetapi juga telah banyak memberikan teladan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. 

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Ikatan Keluarga Alumni Buntet (Iklab) Pesantren KH Masrur Ainun Najib sebagai latar belakang dari terselenggaranya kegiatan bakti sosial Aksi Layan Sehat (ALS) bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, di Desa Buntet, Blok Karang Anyar, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat.

"Dari latar belakang itulah, kemudian para alumni tergerak untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat sebagai bentuk pengaplikasian dari ajaran para ulama pendiri pondok Buntet Pesantren," kata Kiai Masrur.

Wakil Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) itu sengaja memilih Desa Buntet, Blok Karang Anyar sebagai lokasi pemberian kontribusi kepada masyarakat. Alasannya karena alumni ingin memberikan sumbangsih terhadap guru yang telah memberikan yang terbaik semasa mendidik. 

"Para alumni ingin mengembalikan dharma bakti kepada masyarakat Buntet yang selama ini telah turut serta berbagi tempat dalam menuntut ilmu," ungkap alumni Pondok Al-Hikmah K1 Buntet Pesantren itu. 

Sementara kesehatan lanjut Kiai Masrur, menjadi syarat utama dalam menjalankan rangkaian ibadah. Sebab tidak mungkin bisa melaksanakan gerakan-gerakan ibadah kalau tubuh sedang didera sakit atau, bagaimana bisa mencari nafkah kalau hanya berbaring di tempat tidur. 

"Karenanya, penyelenggaraan layanan kesehatan ini penting untuk digelar, selain itu kami juga menganggap bahwa kegiatan ini menjadi salah satu dakwah bil hal, yakni dakwah yang merupakan kerja nyata, tidak hanya sekadar menyampaikan pesan-pesan di atas mimbar atau di majelis taklim pada umumnya," pungkasnya

Kiprah Kiyai Abbas Dalam Pertempuran 10 November Surabaya

10 November Tahun 1945 adalah hari pertempuran besar yang pernah terjadi di Kota Surabaya Jawa Timur, pertempuran tersebut merupakan pertempuran besar antara tentara sekutu yang dipimpin Inggris dengan Pemerintah Indonesia yang dibantu milisi-milisi perjuagan dari berbagai daerah yang sengaja datang untuk menyerahkan nyawa ke Surabaya. 

Karena begitu dahsyatnya perang ini sampai-sampai Pemerintah Indonesia dikemudian hari menetapkan 10 November 1945 sebagai hari pahlawan Nasional. Sebab pada hari inilah pahlawan-pahlawan yang datang berjuang ke Surabaya baik yang gugur maupun yang hidup tak mampu dihitung bilangannya. 

Diantara milisi-milisi pejuang yang turut membantu pemerintah dalam melawan Sekutu pada 10 November 1945 adalah milisi Sabilillah, milisi ini merupakan milisi yang didirikan oleh para Ulama. 

Adapun dalam perang 10 November, berdasarkan musyawarah yang diadakan di Rembang yaitu di Kediaman Kiyai Bisri, diputuskan bahwa yang menjadi panglima perang milisi Sabillah dalam rangka menghadapi sekutu di Surabaya adalah Kiyai Abbas Bin Abdul Djamil beliau merupakan Kiyai kharismatik yang berasal dari Pesantren Buntet  Cirebon. 

Kiyai  Abbas merupakan anak Kiyai Abdul Djamil, cucu dari Kiyai Muta’ad adapun buyut beliau adalah Kiyai Muqqoyim atau orang Buntet biasa menyebut beliau Mbah Muqoyyim. Buyut beliau merupakan Pendiri Pesantren Buntet. Kiyai Abbas lahir pada hari Jumat tanggal 24 Dzulhujjah tahun 1300 H (1879 M) di Kelurahan Pekalangan, Kota Cirebon, Jawa Barat.(E01/Ist)

Utama

Berawal Kenalan di Aplikasi Kencan, Saat Bercinta Youtuber Dihabisi dan Dimutilasi Jadi 11

Jakarta - Polisi menemukan sosok mayat laki-laki diduga menjadi korban mutilasi di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, Rabu sore, 16 S...