Selasa, 17 April 2018

ABG SMP Ini Kebelet Nikah, Batal Kawin Karena Surat Tidak Lengkap

E-NewsIndonesia - Calon pasangan pengantin yang masih sama" pelajar SMP di Bantaeng sudah kebelet nikah. Namun rencan pernikahan yang akan digelar senin, 17/4-2018 batal, karena belum Ada tanda tangan dari Camat setempat.

Dalam UU Perkawinan, pernikahan dapat digelar untuk pria minimal berusia 19 tahun, dan minimal 16 tahun bagi perempuan.

Dalam kondisi tertentu, pernikahan bisa digelar untuk pasangan yang belum memenuhi usia sesuai syarat dalam undangan-undangan.

Pasangan ini memilih untuk menikah muda. Usia calon pengantin (catin) pria baru 15 tahun 10 bulan. Sedangkan catin wanita masih berusia 14 tahun 9 bulan. Umur yang belum cukup sesuai peraturan UU.

Pasangan ini pun telah mendaftarkan perkawinan  ke KUA Kecamatan Bantaeng. Bahkan mereka ini sudah mengikuti Bimbingan Perkawinan (Bimwin), Kamis (12/4/2018).

Penghulu Fungsional pada KUA Kecamatan Bantaeng, Syarif Hidayat mengaku baru pertama kali memeriksa berkas calon pengantin yang usianya begitu belia.

"Ini pertama kalinya saya dapat ada catin semuda ini. Apalagi ini dua-duanya sangat muda," ujarnya, Sabtu (14/3/2018).

Karena usianya yang belum memenuhi syarat itu, pihak KUA sempat menolak dengan mengeluarkan blanko N9 (penolakan pencatatan).

Tapi rupanya usaha kedua sejoli ini tak sampai disitu. Mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng dan permohonannya dikabulkan.

"Sempat ditolak, karena usia keduanya masih belum cukup. Tapi rupanya mengajukan dispensasi dan disetujui oleh Pengadilan Agama," tambahnya.

Karena dispensasi itu, tidak ada lagi alasan pihak KUA untuk menolak permohonan pernikahan kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu.

Syarif pun menggali informasi dari keduanya atas keinginan kuat membangun bahtera rumah tangga itu, namun tidak terdapat kejanggalan.

UU perkawinan menetapkan batasan umur untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan.

Bagaimana bila tetap ingin melaksanakan perkawinan jika umur salah satu atau kedua calon mempelainya di bawah ketentuan yang dibolehkan UUP?

Untuk melaksanakan hal itu, orang tua pihak laki-laki dan orang tua pihak perempuan dapat minta dispensasi atas ketentuan umur kepada Pengadilan Agama bagi yang beragama Islam dan Pengadilan Negeri bagi yang non-Islam.

Pengajuan dispensasi tersebut diajukan ke Pengadilan sesuai wilayah tempat tinggal pemohon.

Jadi, peraturan perundang-undangan yang mengatur terkait batasan umur seseorang untuk melaksanakan perkawinan adalah UUP dan PP 9/1975.

Syarif pun menggali informasi dari keduanya atas keinginan kuat membangun bahtera rumah tangga itu.

Ternyata bukan karena dijodohkan ataupun si wanita sedang berbadan dua. Tetapi pernikahan itu memang keinginan kuat keduanya. Apalagi sang wanita diketahui takut tidur sendiri.

"Dari informasi tantenya, anak ini takut tidur sendiri. Sebab ibunya meninggal setahun lalu. Sedangkan ayahnya kerap keluar daerah, karena urusan kerjaan," katanya.

Padahal wanita ini diketahui masih duduk di kelas 2 SMP. Bahkan siswi ini dikenal berprestasi oleh teman sekelasnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) telah mengirim tim untuk mencegah pernikahan dini yang terjadi di wilayah Bantaeng, Sulawesi Selatan.

"Akan ada tim untuk berusaha ke sana. Bagaimana caranya untuk mencegah ini," kata Menteri PPPA Yohanna Yembise di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (16/4).

Yohanna tidak menjelaskan secara rinci tim yang dimaksud. Dia hanya menegaskan kementeriannya akan fokus pada pencegahan dengan melakukan sosialisasi, edukasi, dan pencerahan terkait pernikahan dini.
Yohanna mengakui saat ini banyak kasus pernikahan dini yang terjadi di Indonesia, termasuk salah satu kasusnya yang terjadi di Bantaeng.

Menyoroti kondisi tersebut, Yohanna kini berfokus memberikan perlindungan kepada hak anak sekaligus tidak membiarkan anak-anak untuk menikah di usia dini seperti yang diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

"Karena undang-undang ini masih berlaku, undang-undang 1/1974 masih berlaku. Jadi membutuhkan pendekatan-pendekatan khusus dengan keluarga," ujarnya.

Sementara itu kedua pengantinpun sempat menyambangi Kantor KUA Kecamatan Bantaeng di Jl Delima, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Guna mendapatkan tanda-tangan dari Camat.

"Belum bisa menikah hari ini katanya karena belum ada dispensasi dari pak Camat Bantaeng," ujar SY pengantin pria

SY didampingi oleh ibundanya dan FA didampingi oleh bibinya. Namun pernikahan yang sedianya dijadwalkan siang ini akhirnya batal.

Pernikahan baru akan dilakukan setelah keduanya mengantongi dispensasi dari Camat Bantaeng.

Camat Bantaeng, Chandra beralasan buru-buru dan hendak mendatangi pesta saat keduanya menyambangi kantor camat.(E01/YR)

Utama

Dialog Dengan Pedagang Kaki Lima, Ketum AHY Luncurkan Gerakan Nasional Demokrat Bina UMKM

Jakarta : Di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terdampak. Usaha mereka sepi pembeli...