Senin, 12 Maret 2018

Anak Ancam Bunuh Ibu dan Adiknya, Ayah Murka Lalu Martil Korban Sampai Meninggal

E-NewsIndonesia - Tragedi kematian Anak ditangan bapak kandungnya sendiri di Magetan. Menganggap sang anak sudah keterlaluan sang ayah murka dan tega bunuh anaknya sendiri.

Ahmad Thohir warga Dusun Balibatur RT 3 RW 3, Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan harus bersiap menghadapi jerat hukum.

Pria 45 tahun ini diduga kuat telah melakukan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga menyebabkan Abdul Azis 18, yang merupakan anak kandungnya sendiri meninggal dunia, Senin (5/3/2018) sekitar pukul 08.00 WIB. 

"Unsurnya KDRT, korban dipukul menggunakan martil dan meninggal dunia," kata Kasubag Humas Polres Magetan, AKP Suyatni Senin 5/3-2018.

Informasi yang dihimpun, pelaku nekat menghabisi anak kandungnya sendiri karena sering mengancam keluarganya. Korbanpun sebenarnya masih berstatus tahanan luar karena kasus pemukulan.

Sebelum kejadian, terjadi pertengkaran antara pelaku dan korban yang dipicu karena korban meminta uang kepada orang tuanya.

Namun tidak diberi karena sedang tidak punya uang. Jawaban tersebut membuat korban geram dan mengancam akan membunuh Ibu dan adik-adiknya.

Mendengar ancaman itu, Ahmad thohir naik pitam dan menganiaya korban dengan martil seberat 3 kilogram hingga meninggal dunia.

Saat kejadian ibu dan adik2nya tdk berada dirumah/mengungsi karna ketakutan korban sering bertengkar dgn bpknya dan mngancam membunuh ibu dan adik-adiknya.

Pelaku kemudian menyerahkan diri ke Kantor Desa Temboro dan selanjutnya dilakukan pengecekan ke TKP bersama Babinsa Serda Edi Suprayitno.

Aparat Polres Magetan yang dipimpin Waka Polres Magetan Kompol Dwi Asih Yuliati dan Kasat Reskrim Akp Sukatni melakukan olah TKP.

Sementara korban dibawa ke RS Sayidiman Magetan dan rencananya akan dibawa ke RS Bhayangkara Kediri untuk kepentingan penyelidikan.
Sang keluarga besar pun ikut memberi keterangan.

Keluarga besar Ahmad Thohir (43), bapak yang memartil Abdul Aziz (17) anak kandungnya hingga tewas, memohon polisi membebaskan pria itu.

Alasannya, Ahmad Thohir yang tinggal di Desa Temboro RT3/RW3, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, ini satu satunya tulang punggung keluarga.

Selain itu, menurut keluarga besar Ahmad Thohir, insiden itu terjadi karena kenakalan almarhum yang sudah diluar batas, sehingga Ahmad Thohir merasa keluarganya terancam.

“Almarhum Abdul Aziz ini kenakalan sudah sangat luar biasa. Saat kejadian itu Abdul Aziz ini berstatus tahanan Polisi Rektor (Polsek) Karas. Sebagai pelaku pemukulan kepada orang tua, kabarnya sampai parah. Kerena itu kami minta polisi bisa membebaskan adik kami,” kata Ro’ib mewakili keluarga besarnya saat di Masjid Polres Magetan, Sabtu (10/3/2018).

Menurut Ro’ib, perilaku korban Abdul Aziz keseharian sudah sangat diluar batas. Setiap permintaan tidak dipenuhi, barang barang yang ada dirumah dirusak. Ibunya dipukuli dan keduanya adiknya tidak luput jadi amarah anak sulung Ahmad Thohir dan Kamirah ini.

“Lihat saja kaca rumah Ahmad Thohir bapak Abdul Aziz, semua pecah, tidak ada satu pun jendela kacanya yang utuh. Ibunya baru sehari berani pulang ke rumah, mengungsi ke rumah kakaknya, sebelum kejadian Abdul Aziz meninggal itu,” ujar kakak kandung Kamirah, ibu kandung Abdul Aziz ini.

Dikatakan Ro’ib, kenakalan Abdul Aziz terlihat  sejak dua tahun terakhir setelah putus sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fatah Temboro. Setiap hari dia hanya mabuk mabukan dengan pemuda di luar desa.

Saat kejadian itu, korban ternyata tidak hanya minta uang Rp 10 ribu, tapi juga minta Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB), sepeda yang dipakainya. Namun tidak diberikan oleh Kamirah, ibunya, sehingga terjadi pemukulan kepada Kamirah dan mengancam membunuh kedua adiknya.

“Dia tidak sekolah lagi, saat Ibunya kerja TKW di Arab Saudi . Hasil kerja Ibunya hanya untuk memanjakan Abdul Aziz, dia minta sepeda motor, HP yang bagus. Setiap hari uang sakunya tidak kurang dari Rp 50 ribu. Padahal bapaknya hanya pemecah batu, yang penghasilannya tidak sampai Rp 50 ribu,” katanya.

Kini, lanjut Ro’ib, kehidupan Kamirah, dan dua anaknya sangat memilukan. Anak kedua mereka, Hasanudin (10) klas 4 dan adiknya, Dewi Nurhayati klas 1 keduanya sekolah di Madrasah Ibdaiyah (MI) Al-Fatah, Temboro, Karas, kabupaten Magetan.

“Karena itu kami memohon Bapak Kepala Polisi bisa meluluskan, agar Ahmad Thohir bisa dibebaskan. Kami keluarga besar sudah ikhlas dengan kejadian itu. Semoga bapak kepala kepolisian tidak lagi memproses masalah ini, kasihanilah keluarga Ahmad Thohir,” kata Ro’ib.

Kapolres Magetan AKBP Muslimin yang dikonfirmasi masalah ini memastikan proses hukum masih berjalan.

“Masih proses dulu saja, kan ini juga masih awal . Biar prosedur berjalan dulu saja,” kata Kapolres Muslimin.(E01/YR)

Utama

Berawal Kenalan di Aplikasi Kencan, Saat Bercinta Youtuber Dihabisi dan Dimutilasi Jadi 11

Jakarta - Polisi menemukan sosok mayat laki-laki diduga menjadi korban mutilasi di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, Rabu sore, 16 S...