Senin, 26 Februari 2018

Ribuan Warga Kuningan Berjalan Kaki 8 KM Naik Turun Bukit Untuk Mengungsi

E-NewsIndonesia - Bencana tanah longsor hingga saat ini masih mengancam warga Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Di Kecamatan Ciniru, lebih dari 1.500 jiwa dan 500 keluarga mengungsi. Mereka berjalan kaki naik turun bukit guna menyelamatkan jiwa, Senin 26/2-2018.

Korban longsor harus melintasi Sungai Cipari dan jalan setapak yang licin karena hanya inilah akses keluar dari desa yang hancur akibat longsor.

Mereka tidak bisa membawa harta benda mereka karena medan yang cukup sulit. Hanya bisa membawa hewan ternak seperti kambing.

Warga mengungsi ke desa yang lebih aman, karena khawatir longsor susulan. Beberapa lansia terlihat kelelahan bahkan pingsan. Merekapun harus ditandu oleh warga lain dan tim penolong yang membantu evakuasi warga.

Lebih dari 1500 warga harus mengungsi karena rumah rusak akibat bencana tanah gerak di desa Pinara, Kuningan, Jawa Barat. Warga harus menempuh 8 km menyusuri perbukitan karena jalan tertutup longsor dan jembatan penyeberangan yang putus.

Bencana banjir, gerakan tanah dan tanah longsor yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Kabupaten Kuningan membuat ribuan warga terpaksa mengungsi. Meski demikian, tidak ada korban jiwa akibat bencana-bencana tersebut.

"Ada 2.505 jiwa dari 427 kepala keluarga (KK) yang terpaksa mengungsi akibat bencana banjir, gerakan tanah dan longsor," ujar Kepala Pelaksana BPBD KabupatenKuningan, Agus Mauludin.

Menurut Agus, ribuan warga yang mengungsi itu berasal dari delapan desa di lima kecamatan di Kabupaten Kuningan. Diantaranya Desa Margacina dan Sagaranten, Kecamatan Karang kancana, Desa Bunigeulis Kecamatan Hantara, Desa Randusari dan Kawungsari Kecamatan Cibereum, Desa Longkewang Kecamatan Ciniru serta Desa Sindang Jawa dan Marga Bakti Kecamatan Kadu Gede.

Di Desa Margacina, Kecamatan Karang Kancana, jumlah warga yang mengungsi ada 987 jiwa dari 250 KK akibat bencana gerakan tanah. Mereka mengungsi ke Desa Kadu Agung, Kecamatan Karang Kancana.

Sedangkan di Desa Sagaranten, Kecamatan Karang Kancana, tercatat ada 900 jiwa yang mengungsi akibat tanah longsor. Lokasi pengungsian mereka ada di Dusun Gunung Jaawa, Desa Sagaranten, yang dinilai lebih aman. Untuk warga Desa Buni Geulis, Kecamatan Hantara, ada 20 jiwa dari enam KK yang mengungsi akibat longsor. "Mereka mengungsi di Balai Kampung, Desa Tundagan, Kecamatan Hantara," terang Agus.

Agus menambahkan, warga dari Desa Randusari, Kecamatan Cibereum yang mengungsi ada 120 jiwa dari 41 KK akibat gerakan tanah. Lokasi pengungsian mereka di Balai Desa Randu Sari.

Sementara itu, di Desa Kawung Sari, Kecamatan Cibereum, tercatat ada 241 jiwa dari 79 KK yang mengungsi karena banjir. Di Desa Sindang Jawa, Kecamatan Kadu Gede, ada 55 jiwa dari 16 KK dan di Desa Marga Bakti, Kecamatan Kadu Gede ada 37 jiwa yang mengungsi akibat longsor.

Di Desa Longkewang, Kecamatan Ciniru, ada 145 jiwa dari 35 KK yang mengungsi karena gerakan tanah. (E01/Ist)

Utama

AHY Tegaskan Tuduhan Dirinya Dalangi Demo UU Ciptaker Sangat Menyakiti Hati Nurani Rakyat

Jakarta : Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono  membaca headline Koran Tempo dan Kompas hari ini. Kedua harian nasional itu m...