Senin, 19 Februari 2018

Polres Majalengka Nyatakan Berita Pembunuhan Muadzin Oleh Orang Gila Hoax

Jejak Kasus Jabar - Majalengka sempat dihebohkan oleh isyu pembunuhan seorang Muadzin bernama H. Bahro (60) oleh lelaki yang tidak dikenal dan berlaku seperti orang gila.

Kapolres Majalengka, AKBP Noviana Tursanurohmad, memastikan penganianyaan yang berujung pembunuhan memang terjadi, tetapi tidak melibatkan muadzin atau orang gila. 

"Kejadian ada, tapi tidak melibatkan muadzin dan pelakunya bukan orang gila," jelasnya. 

Berdasarkan hasil olah TKP, sambung kapolres, H Bahro, murni diduga menjadi korban curas dan saat ini kasusnya masih sedang dalam proses penyelidikan. Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak percaya terhadap isu tersebut. 

"Kami ingatkan agar jangan percaya berita hoax. Sebab tujuan hoax hanya memecah belah masyarakat dan membuat keresahan," lanjutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya media sosial pada dua hari ini khususnya di Facebook digegerkan postingan adanya pembunuhan terhadap seorang muadzin di Majalengka dan pelakunya berpura-pura gila.

Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat KH Akhmad Muhidin memastikan bahwa H. Bahro (60) yang meninggal dunia bukanlah seorang muadzin seperti berita yang viral di media sosial. 

"Saya pastikan informasi tersebut, adalah hoax atau tidak benar. Kami harap masyarakat jangan mempercayai isu tersebut," kata Muhidin yang diamini oleh keluarga korban Bahro di Majalengka, Sabtu. 

Menurutnya Bahro (60) yang tinggal di Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka bukan seorang muazin, ustad atau kyai, melainkan hanya masyarakat biasa.

Maka dari itu, MUI mengimbau ulama, santri, ustadz dan warga agar tetap tentram serta tidak merasa terancam. 

"Khususnya kepada masyarakat agar tidak mempercayai isu atau informasi hoax yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan," tuturnya. 

Di tempat yang sama juga ditegaskan Istri korban, Mumun dan anaknya Ahmad Subendi, bahwa peristiwa menimpa anggota keluarganya yang tewas adalah korban pencurian dengan kekerasan (curas) karena di dalam rumahnya sudah acak-acakan.

"Bapak saya bukan seorang muadzin, melainkan hanya masyarakat biasa dan bapak saya meninggal di teras rumah, akibat korban pencurian. Bapak dibunuh oleh pelaku yang hendak mencuri barang barang berharga kami," pungkasnya. (Rt.Ayu JK Jbr)

Utama

Barisan Partai Perindo Sliyeg Siap Menangkan SHOLAWAT

Indramayu - Barisan Relawan Perindo (BARINDO) mengadakan sosialisasi pemenangan paslon SHOLAWAT (Sholihin-Ratnawati) di desa Gadingan Sliyeg...