Sabtu, 03 Februari 2018

KPAI Meminta Polisi Usut Tuntas Kasus Pemukulan Guru Oleh Murid

E-News Indonesia - Seorang siswa SMAN 1 Torjun Sampang Madura berinisial HI (17) melakukan pemukulan terhadap gurunya Ahmad Budi Cahyono saat guru tersebut menyampaikan pelajaran kesenian. HI tertidur di dalam kelas, Budi kemudian menghampiri dan mencoret wajahnya dengan tinta. Tidak terima, HI kemudian langsung memukul Budi di pelipis wajahnya,  Kamis 1/2-2018.

Korban dihajar oleh muridnya sampai terjatuh dan membentur tempat duduk yang biasa digunakan untuk istirahat para siswa.

Korban melaporkan kejadian tersebut kepada kepala sekolah. Lalu korban dan pelaku dipertemukan untuk berdamai.

Namun saat tiba di rumahnya korban mengalami muntah-muntah dan dibawa ke rumah sakit. Korban meninggal dunia di rumah sakit karena mengalami perdarahan otak.

HI diamankan jajaran Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Sampang, Jumat 2/2-2018 dini hari di rumahnya.

Kepala Satuan Reskrim Polres Sampang Ajun Komisaris Polisi Hery Kusnanto menuturkan, saat didatangi di kediamannya di Dusun Brekas, Desa Torjun, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, pelaku langsung menyerahkan diri. 

Anggota keluarga pelaku juga tidak ada upaya untuk menghalangi penjemputan pelaku. Sebelum melakukan penangkapan kepolisian sudah menempatkan anggotanya mengawasi rumah pelaku agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Saat ini pelaku masih ditahan untuk segera menjalani pemeriksaan. Polres Sampang juga sudah mendatangi keluarga korban untuk menenangkan suasana. Sebab, dikhawatirkan ada pihak keluarga yang tidak terima atas kejadian ini dan berusaha melakukan balas dendam.

Sementara itu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti meminta kepolisian mengusut tuntas penyebab kematian guru kesenian di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur, Budi Cahyono. Retno mengatakan, hukum tetap harus ditegakkan meski pelaku masih merupakan seorang siswa sekolah.

"KPAI menyampaikan keprihatinan atas kasus tersebut. KPAI meminta kepolisian untuk mengusut apa sebenarnya penyebab kematian guru tersebut atau apakah karena pukulan si siswa atau sebab lain," ujar Retno di Jakarta, Jumat 2/2-2018.

Ada jeda antara peristiwa pemukulan dengan kematian korban. Jika karena pukulan siswa tersebut sebagai penyebab kematian, maka hukum haruslah ditegakkan, meski pelaku merupakan siswa yang masih masuk dalam kategori anak.

"Kalau terbukti bersalah, siswa tersebut wajib diproses hukum sesuai UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA)," pungkasnya.(E01/Ist)

Utama

AHY Tegaskan Tuduhan Dirinya Dalangi Demo UU Ciptaker Sangat Menyakiti Hati Nurani Rakyat

Jakarta : Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono  membaca headline Koran Tempo dan Kompas hari ini. Kedua harian nasional itu m...